Kalau diperhatikan, tingkat kepedulian antar sesama sudah mulai luntur, Tidak ada lagi sikap dan sifat toleransi, semuanya mempunyai egoisme tinggi, Symbol - symbol moral adat istiadat ketimuran sudah di rusak dengan pemikiran - pemikiran ala barat bergaya liberal. Tidak heran masalah kecil bisa menjadi besar jika hanya mengandalkan egoisme nafsu. Padahal kalo diselesaikan dengan kekeluargaan atau musyawarah masalah - masalah tersebut akan terselesaikan tanpa menimbulkan masalah baru. Kalo sudah begini siapa yang bertanggung jawab untuk mengembalikan jati diri moral masyarakat bangsa Indonesia?. Paling tidak kita harus bisa proteksi dan menyaring diri dan keluarga kita dari pengaruh kebudayaan baru yang bernama liberal.
29.10.12
27.10.12
Iedul Adha 1433 H / 2012
"Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha
bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku
melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa
pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk
orang-orang yang sabar". Tatkala keduanya telah berserah diri dan
Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran
keduanya ), dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya
kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi
balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata, dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar". (Ash Shaaffaat: 102-107)
25.10.12
Anjuran Tidak Makan Sebelum Shalat Idul Adha
Ada satu anjuran sebelum penunaian shalat Idul Adha yaitu tidak makan sebelumnya.
Karena di hari tersebut kita kaum muslimin yang mampu disunnahkan untuk
berqurban. Oleh karenanya, anjuran tersebut diterapkan agar kita
nantinya bisa menyantap hasil qurban.
Dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-
لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ
الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ
“Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul
Fithri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha,
beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied
baru beliau menyantap hasil qurbannya.” (HR. Ahmad 5: 352.Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,
قال أحمد: والأضحى لا يأكل فيه حتى يرجع إذا
كان له ذبح، لأن النبي صلى الله عليه وسلم أكل من ذبيحته، وإذا لم يكن له
ذبح لم يبال أن يأكل. اهـ.
“Imam Ahmad berkata: “Saat Idul
Adha dianjurkan tidak makan hingga kembali dan memakan hasil sembelihan
qurban. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam makan dari hasil
sembelihan qurbannya. Jika seseorang tidak memiliki qurban (tidak
berqurban), maka tidak masalah jika ia makan terlebih dahulu sebelum
shalat ‘ied.” (Al Mughni, 2: 228)Ibnu Hazm rahimahullah berkata,
وإن أكل يوم الأضحى قبل غدوه إلى المصلى فلا بأس، وإن لم يأكل حتى يأكل من أضحيته فحسن، ولا يحل صيامهما أصلا
“Jika seseorang makan pada hari
Idul Adha sebelum berangkat shalat ‘ied di tanah lapang (musholla),
maka tidak mengapa. Jika ia tidak makan sampai ia makan dari hasil
sembelihan qurbannya, maka itu lebih baik. Tidak boleh berpuasa pada
hari ‘ied (Idul Fithri dan Idul Adha) sama sekali.” (Al Muhalla, 5: 89)Namun sekali lagi, puasa pada hari ‘ied -termasuk Idul Adha- adalah haram berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama kaum muslimin. Sedangkan yang dimaksud dalam penjelasan di atas adalah tidak makan untuk sementara waktu dan bukan niatan untuk berpuasa dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
Dan kita lihat dari penjelasan Imam Ahmad yang dinukil dari Ibnu Qudamah di atas bahwa sunnah tidak makan sebelum shalat Idul Adha hanya berlaku untuk orang yang memiliki hewan qurban sehingga ia bisa makan dari hasil sembelihannya nanti. Sedangkan jika tidak memiliki hewan qurban, maka tidak berlaku. Wallahu a’lam.
Hikmahnya
Hikmah dianjurkan makan sebelum berangkat shalat Idul Fithri adalah agar tidak disangka bahwa hari tersebut masih hari berpuasa. Sedangkan untuk shalat Idul Adha dianjurkan untuk tidak makan terlebih dahulu adalah agar daging qurban bisa segera disembelih dan dinikmati setelah shalat ‘ied. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1: 602)
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,
وَلِأَنَّ يَوْمَ الْفِطْرِ يَوْمٌ حَرُمَ
فِيهِ الصِّيَامُ عَقِيبَ وُجُوبِهِ ، فَاسْتُحِبَّ تَعْجِيلُ الْفِطْرِ
لِإِظْهَارِ الْمُبَادَرَةِ إلَى طَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى ، وَامْتِثَالِ
أَمْرِهِ فِي الْفِطْرِ عَلَى خِلَافِ الْعَادَةِ ، وَالْأَضْحَى
بِخِلَافِهِ .وَلِأَنَّ فِي الْأَضْحَى شُرِعَ الْأُضْحِيَّةُ وَالْأَكْلُ
مِنْهَا ، فَاسْتُحِبَّ أَنْ يَكُونَ فِطْرُهُ عَلَى شَيْءٍ مِنْهَا .
“Idul Fithri adalah hari diharamkannya berpuasa setelah sebulan
penuh diwajibkan. Sehingga dianjurkan untuk bersegera berbuka agar
semangat melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala dan perintah makan pada
Idul Fithri (sebelum shalat ‘ied) adalah untuk membedakan kebiasaannya
berpuasa. Sedangkan untuk hari raya Idul Adha berbeda. Karena pada hari
Idul Adha disyari’atkan memakan dari hasil qurban. Jadinya, kita
dianjurkan tidak makan sebelum shalat ‘ied dan nantinya menyantap hasil
sembelihan tersebut.” (Al Mughni, 2: 228)Wallahu waliyyut taufiq.
Sumber: Rumaysho (http://indonesian.iloveallaah.com/tidak-makan-sebelum-shalat-idul-adha/)
Langganan:
Komentar (Atom)








